OMONG KOSONG TENTANG ODE

Ode adalah manusia. Ode adalah manusia yang kebetulan lahir dari rahim seorang ibu jawa dan seorang bapak sunda. Ode adalah gabungan dari kesedihan dicampur macam-macam siksa neraka dan kebetulan sebagian teman-temannya bilang bahwa ia mirip Bob Dylan. Ode adalah manusia dan bukan jin meskipun bentukannya seperti itu.

Hari ini tepat 26 tahun yang lalu, seorang ibu muda dilarikan ke puskesmas karena disangka bakal melahirkan. Dan ketika datang ke puskesmas itu, bukan tangis bayi yang pecah melainkan makian “anjing!” dua-puluh-kali ditambah “babi!” dua-puluh-kali-juga. Sebab tak ada bayi lahir. Yang ada cuma seonggok tahi-kuning-bau yang lembek dan sedikit bercampur air. Ada juga serat kangkung dan kulit cabai. Setelah menunggu dari matahari tenggelam di barat lalu muncul kembali di timur dan tetap tak ada tanda-tanda bayi itu akan segera lahir, maka dibawa pulanglah ibu menyebalkan itu diiringi rasa syukur para perawat yang tadi mencak-mencak.

Di perjalanan pulang, si bapak sedang memikirkan bagaimana cara paling ampuh untuk menyebarkan agama baru. Dia berkeyakinan anaknya akan jadi nabi perempuan pertama. Itu adalah keyakinan kedua, sebab keyakinan pertamanya, anak yang bakal lahir dari rahim istrinya adalah perempuan.

“Kalau sampai anak yang lahir nanti laki-laki, bakal kuberi nama Ode meskipun tidak ada darah timur yang mengalir di tubuhnya. Dan aku, tentu saja bakal percaya Muhammad, Arab itu.” Kelakar Si Bapak.

Dan kita semua tahu akhirnya, anak yang lahir adalah laki-laki. Sesuai janji Si Bapak, diberi nama; Ode Sutra.

Sebenarnya, “Sutra” dalam akhiran nama Ode adalah sebuah kecelakaan. Cerita tentang ini simpang-siur. Sebab salah satu kerabat Ode bilang bahwa kebetulan guru sekolah dasar yang menangani pendaftaran Ode salah dengar dan ia merupakan penggemar fanatik film-film produksi China. Ketika Bapak Ode meenyebutkan nama anaknya: Ode Sastra. Guru itu malah menulis:Ode Sutra. Seperti nama sebuah jalur dagang di jaman dahulu.

Kerabat yang lain bilang lain lagi. Dia mengatakan Bapaknya (baca: Bapak dari Ode) lupa-lupa ingat terhadap sebutan terhadap tulisan-tulisan yang ditulis pengarang dan punya lambang seekor kuda bersayap dari mitologi Yunani kuno yang diberi nama Vegasus.

Kerabat lainya bilang: kita tahu bentuk lidah dan pelafalan Bapaknya. Dia mengubah Feminis menjadi Peminis, Komunis menjadi Kuminis, jadi wajar saja kalau dia mengubah sastra menjadi sutra.

Jika saja Ode tahu perihal kisah ini, tentu dia akan memaki ketololan-ketololan yang tidak diperbuatnya. Dia akan memaki ketololan orang yang menulis cerita sia-sia ini.

————

Ode duduk di lantai keramik, mengambil sebatang kretek dari bungkus Gudang Garam, menyulutnya denga api dari korek bermerek Alfamart, mengisap dan mengembuskan asapnya kuat-kuat. Ode masih duduk di lantai keramik, masih terus mengisap-embuskan asap kretek itu dan ia batuk. Ada dahak hitam yang diludahkan Ode. Dia lalu menyala-matikan mancis bara api kuning kretek itu dengan jarinya.

“Memang umur yang pas buat mati,” lirihnya.

Ode selalu membayangkan bisa sehebat Chairil ketika menulis puisi, dan seberani Gie ketika menulis esai. Ode selalu membayangkan bisa sehebat Chairil ketika menulis puisi, dan seberani Gie ketika menulis esai, dan sayang, Ode tak pernah bisa sehebat mereka kecuali perihal kematiannya.

“26. Setua itukah kebosanan?*” gumamnya.

Dia teringat perlakuan teman-temannya yang kurang menyenangkan. Dia teringat Mudzakir yang melihat sinis padanya saat dia masuk kelas dan cuma pakai sendal jepit. Dia teringat huruf E di nilai salah satu mata kuliahnya sebab dia tak ikut UTS dan memilih berjualan kaos polos. Dia teringat sabun batangan, lotion aroma teripang, dan ucapan ibunya yang lemah lembut ketika dia mengeluhkan perlakuan buruk kawan-kawannya: Gusti Allah mboten sare, Nak…

“Iya, Tuhan tidak tidur dan melihat perlakuan teman-temanku. Dia jugamelihat kelakuanku tadi.”

Ia mengisap lagi kreteknya, mengembuskan lagi asapnya, dan memaki ketololan-ketololan yang telah ia perbuat.

Ia merasa tak perlu berbuat baik. Toh, seperti kata seorang filsuf: manusia hidup dari kematian manusia lain. Ia sering membawa ini dalam puisi-puisi yang ia tulis dan memaki ketololan-ketololan orang yang membaca puisinya.

Ia tak pernah menulis tentang senja, bulan dan laut. Ia tak pernah menulis tentang senja, bulan dan laut dan cinta yang klise. Ia tak pernah menulis tentang itu semua. Ia setuju dengan Dea, orang-orang yang menyukai matahari sewarna saus tomat itu pastilah otaknya geser. Senja itu nonsens. Tak ada yang berarti darinya. Maka beruntunglah orang-orang yang tak menaruh kepalanya di ember cucian.

Sebagai seorang penyair, kisah cinta Ode begitu suram. Di umur yang ke 26, perkakasnya tak pernah sekalipun dicobakan pada satu wanita pun, kecuali pada sabun batangan dan lotion aroma teripang dan –jika beruntung– pada semangka yang ia lubangi terlebih dahulu dengan pisau dapur.

Ode senang memaki. Itulah sebabnya cerita tentang omong kosong ini tak selesai.

Ode senang memaki. Itulah sebabnya cerita ini tak sampai pada kalimat “selamat ulang tahun”.

Ode senang memaki. Itulah sebabnya cerita ini tak sampai pada kalimat “panjang umur kebosanan”.

Nb. *Dorothea Rosa Herliani.

Iklan

Move On.

[Entah bagaimana awalnya percakapan bermula]

“Menurut saya, kata “Move On” itu terlalu kejam untuk disematkan kepada orang yang pernah (atau masih) singgah di hati kita. Pernah mengisi kosong-kosongnya kita. Apalagi, kita pernah melihat Tuhan di antara pejam-terbuka matanya. Ayolah, ingat, kalian pernah keringetan berdua, lho.”
.
“Lalu bagaimana dengan teori Bang Bello, yang mengatakan bahwa: perempuan itu seperti monyet. Dia tidak akan melepas satu dahan sebelum meraih dahan yang lain?”
.
“Saya tidak mau berasumsi. Asumsi telah membunuh saya.”
.
“Ini bukan asumsi. Hanya kemungkinan.”
.
“Tidak mungkin dan tidak ada jawaban.”
.
“Ayolah… Berarti, Mas belum move on?”
.
“Move on terlalu kejam. Tapi baiklah, kalau kamu berteguh dan menamai itu “Move on”. Saya tidak menemukan kesalahan “Ontologis” yang membuat saya agar tidak “ketergantungan” terhadap dia.”
.
“Berarti Mas sadar ini kesalahan Mas?”
.
“Ya.”
.
“Kalau teori Bang Bello tentang perempuan seperti monyet, benar?”
.
“Tidak mungkin benar.”
.
“Kalau, Mas, kalau.”
.
“Tetap saja, saya tidak akan menamai itu move on.”
.
“Baiklah. Ini sedikit melenceng dari tema.”
.
“Ya?!”
.
“Kapan terakhir kali Mas masturbasi?”
.
“Asem!!”
.
“Lha?”
.
“Sebulan lalu.”
.
“Wow.”
.
“Kamu sendiri, kapan terakhir nonton bokep?”
.
“Barusan.”
.
“Bocah edan! Kalau bukan perempuan, sudah tak kamplengi kamu, Mba.”
.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑