Move On.

[Entah bagaimana awalnya percakapan bermula]

“Menurut saya, kata “Move On” itu terlalu kejam untuk disematkan kepada orang yang pernah (atau masih) singgah di hati kita. Pernah mengisi kosong-kosongnya kita. Apalagi, kita pernah melihat Tuhan di antara pejam-terbuka matanya. Ayolah, ingat, kalian pernah keringetan berdua, lho.”
.
“Lalu bagaimana dengan teori Bang Bello, yang mengatakan bahwa: perempuan itu seperti monyet. Dia tidak akan melepas satu dahan sebelum meraih dahan yang lain?”
.
“Saya tidak mau berasumsi. Asumsi telah membunuh saya.”
.
“Ini bukan asumsi. Hanya kemungkinan.”
.
“Tidak mungkin dan tidak ada jawaban.”
.
“Ayolah… Berarti, Mas belum move on?”
.
“Move on terlalu kejam. Tapi baiklah, kalau kamu berteguh dan menamai itu “Move on”. Saya tidak menemukan kesalahan “Ontologis” yang membuat saya agar tidak “ketergantungan” terhadap dia.”
.
“Berarti Mas sadar ini kesalahan Mas?”
.
“Ya.”
.
“Kalau teori Bang Bello tentang perempuan seperti monyet, benar?”
.
“Tidak mungkin benar.”
.
“Kalau, Mas, kalau.”
.
“Tetap saja, saya tidak akan menamai itu move on.”
.
“Baiklah. Ini sedikit melenceng dari tema.”
.
“Ya?!”
.
“Kapan terakhir kali Mas masturbasi?”
.
“Asem!!”
.
“Lha?”
.
“Sebulan lalu.”
.
“Wow.”
.
“Kamu sendiri, kapan terakhir nonton bokep?”
.
“Barusan.”
.
“Bocah edan! Kalau bukan perempuan, sudah tak kamplengi kamu, Mba.”
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: